Potensi Minyak Atsiri dari Bunga Mawar (Rose)


Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter.

Sebagian besar spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Mawar sebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun.
Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak.
Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Spesies dengan bunga yang terbuka lebar lebih mengundang kedatangan lebah atau serangga lain yang membantu penyerbukan sehingga cenderung menghasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan. Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa perkecualian seperti Rosa pimpinellifolia yang menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam.
Pada beberapa spesies seperti Rosa canina dan Rosa rugosa menghasilkan buah rose hips yang sangat kaya dengan vitamin C bahkan termasuk di antara sumber vitamin C alami yang paling kaya. Buah rose hips disukai burung pemakan buah yang membantu penyebaran biji mawar bersama kotoran yang dikeluarkan. Beberapa jenis burung seperti burung Finch juga memakan biji-biji mawar.
Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Beberapa spesies yang tumbuh liar di tanah berpasir di daerah pantai seperti Rosa rugosa dan Rosa pimpinellifolia beradaptasi dengan duri lurus seperti jarum yang mungkin berfungsi untuk mengurangi kerusakan akibat dimakan binatang, menahan pasir yang diterbangkan angin dan melindungi akar dari erosi. Walaupun sudah dilindungi duri, rusa kelihatannya tidak takut dan sering merusak tanaman mawar. Beberapa spesies mawar mempunyai duri yang tidak berkembang dan tidak tajam.
Mawar dapat dijangkiti beberapa penyakit seperti karat daun yang merupakan penyakit paling serius. Penyebabnya adalah cendawan Phragmidium mucronatum yang menyebabkan kerontokan daun. Penyakit yang tidak begitu berbahaya seperti Tepung Mildew disebabkan cendawan Sphaerotheca pannosa, sedangkan penyakit Bercak Hitam yang ditandai timbulnya bercak-bercak hitam pada daun disebabkan oleh cendawan Diplocarpon rosae. Mawar juga merupakan makanan bagi larva beberapa spesies Lepidoptera.

Perkembangan Industri Parfum dari Minyak Mawar

Parfum (minyak wangi) dibuat dari minyak mawar yang merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang diperoleh dari proses penyulingan dan penguapan lumatan daun-daun mahkota. Teknik penyulingan mawar berasal dari Persia yang menyebar ke Arab dan India.
Pada saat ini, kebutuhan minyak mawar dunia sebanyak 70%-80% dipenuhi oleh pusat penyulingan mawar di Bulgaria sedangkan sisanya dipenuhi oleh Iran dan Jerman. Penyulingan minyak mawar di Bulgaria, Iran, dan Jerman menggunakan mawar damaskus Rosa damascena 'Trigintipetala,' sedangkan penyulingan di Perancis menggunakan jenis Rosa centifolia. Minyak mawar berwarna kuning pucat atau kuning keabu-abuan juga disebut minyak 'Rose Absolute' untuk membedakannya dengan minyak mawar yang sudah diencerkan. Penyulingan menghasilkan minyak mawar dengan perbandingan 1/3.000 sampai 1/6.000 dari berat bunga, sehingga dibutuhkan 2.000 bunga mawar untuk menghasilkan minyak mawar sebanyak 1 gram.
Minyak mawar terdiri dari geraniol beraroma wangi yang mempunyai rumus kimia C10H18O dengan rumus bangun CH3.C[CH3]:CH.CH2.CH2.C[CH3]:CH.CH2OH dan l-sitronelol; serta rose camphor (parafin tanpa bau).

sumber : wikipedia

Peluang Pengembangan Minyak Melati (Jasmine Oil)


Minyak bunga melati mempunyai prospek yang cerah. Baik melati putih maupun melati gambir dapat menghasilkan minyak dengan wangi yang khas dan telah populer di bursa produk wewangian. Harganya pun cukup mencengangkan, sekitar US$ 5.000 per liter.

Di Indonesia terdapat dua jenis bunga melati yang sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat. Pertama, melati putih (Jasminum sambac), banyak ditanam di daerah pantai dan dataran rendah panas dan kering, dengan bunga berwarna putih dan harum

Melati jenis ini digunakan untuk bunga tabur, bunga rampai, rangkaian bunga untuk pesta perkawinan, dan khusus untuk daerah Jawa Tengah juga digunakan dalam pembuatan teh wangi melati (Jasmine tea). Sejak tahun 1990-an, bunga melati putih segar produksi Tegal, Jawa Tengah, telah diekspor ke Singapura untuk memenuhi permintaan bunga sesaji/keperluan keagamaan. Kedua, melati gambir (Jasminum officinale), saat ini banyak ditanam di daerah Purbalingga dan Batang di Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan pabrik teh. Dalam pembuatan teh wangi, dua macam bunga melati tersebut dicampur pada perbandingan tertentu dengan daun teh untuk mendapatkan wangi yang spesial.

Saat ini, daerah pertanaman melati yang cukup luas adalah di Jawa Tengah. Areal tanaman melati putih sekitar 317 ha dan melati gambir 390 ha, sedangkan di Jawa Timur dan Jawa Barat masing-masing 45 ha dan 17 ha, seperti dikemukakan Sutater dan Effendie dalam laporan survai tahun 1994.

Potensi melati untuk usaha agribisnis cukup besar, memiliki rata-rata produksi per hektar per hari sekitar 16,2 kg dengan kisaran 5-20 kg. Fluktuasi produksi bunga agak besar karena sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Di sentra produksi pada musim panen besar (musim hujan), sering kali bunga melati tidak terserap oleh pabrik teh sehingga harga bunga turun.

Di sisi lain, saat ini kebutuhan minyak bunga alami termasuk melati untuk keperluan industri kosmetik, farmasi, minyak wangi, sabun, industri jamu, dan terapi aroma masih belum dapat dipenuhi produksi dalam negeri sehingga harus diimpor. Khusus untuk keperluan terapi aroma sebagai bagian dari perawatan kebugaran, minyak melati mempunyai peran yang sangat penting. Menurut Herbal Encyclopedia, aroma melati mampu menimbulkan efek relaksasi, menghilangkan ketegangan pikiran/depresi, dan memberi kesan tenang (calm). Karena khasiat itulah, barangkali nenek moyang kita menggunakan melati sebagai bunga pengantin. Apakah tidak mungkin dua sisi potensi dan peluang ini dipertemukan?

Jika bunga diproses menjadi minyak melati, untuk menghasilkannya diperlukan bahan baku dan teknologi yang tepat. Dari sisi bahan baku yaitu bunga melati, seperti bunga-bunga penghasil minyak wangi alami lainnya, hasil minyak bunga melati tergolong rendah. Di India, ekstraksi melati gambir menghasilkan concrete 0,28%, yang jika diproses lanjut akan memperoleh absolut atau minyak kurang lebih 50 persennya. Namun, hasil ini masih lebih tinggi dibanding ekstraksi bunga sedap malam yang hanya menghasilkan minyak 0,068-0,105%.

Teknologi

Teknologi untuk menghasilkan minyak bunga melati telah diteliti oleh Balai Penelitian Tanaman Hias yang kemudian dilanjutkan oleh Balai Penelitian Pascapanen Pertanian. Dua teknik produksi minyak bunga melati telah dicoba, yaitu ekstraksi menggunakan pelarut menguap dan enfleurasi atau enfleurage. Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kelemahan.

Enfleurasi merupakan suatu teknik menghasilkan minyak bunga dengan cara menangkap minyak bunga yang menguap dari kuntum bunga yang merekah menggunakan campuran lemak. Selanjutnya, minyak bunga dipisahkan dari campuran lemak dengan melarutkannya dalam alkohol dilanjutkan dengan penguapan alkohol hingga diperoleh minyak bunga alami. Keunggulan cara ini adalah mampu menghasilkan minyak bunga dengan jumlah dan mutu yang tinggi, karena selama proses tidak banyak bersentuhan dengan panas sehingga kehilangan dan kerusakan zat wangi sangat rendah. Kelemahannya, teknik ini menyisakan limbah lemak yang perlu dicarikan cara pemanfaatannya, dan perlu tenaga terampil untuk pekerjaan defleurasi atau mengangkat kuntum-kuntum bunga layu dari lapisan campuran lemak setelah proses penyerapan/penangkapan minyak.

Cara lainnya yaitu ekstraksi dengan menggunakan pelarut menguap, yang mempunyai keuntungan mudah dikembangkan untuk industri dan pelarut dapat diperoleh kembali dari rangkaian proses. Kelemahannya, selama proses ekstraksi harus mampu mengendalikan suhu agar tidak lebih dari 55oC, kalau bisa sekitar 45oC, karena suhu yang lebih tinggi akan merusak komponen zat wangi. Namun, secara teknis kelemahan ini mudah diatasi, yaitu pada saat penguapan pelarut diberikan kondisi vakum tertentu untuk menurunkan suhu. Karena mudah rusak oleh temperatur tinggi itu pula minyak bunga melati kurang baik mutunya jika dihasilkan melalui penyulingan dengan air/uap panas.

Proses Menghasilkan Minyak Bunga Melalui Ekstraksi dengan Pelarut Menguap

Untuk mendapatkan minyak bunga melati diperlukan rangkaian proses, seperti perendaman sambil diaduk untuk memberi kesempatan kontak antara pelarut dan bahan, penguapan, dan destilasi. Untuk mendukung proses tersebut diperlukan beberapa peralatan yaitu leaching apparatus, evaporator, destiller, dan evaporator vakum berputar.

Leaching apparatus berupa tangki tertutup sebagai wadah perendaman bunga, yang dilengkapi pengaduk, lubang pemasukan bahan dan lubang pengeluaran cairan/ampas. Bunga melati dimasukkan ke dalam tangki, ditambahkan heksan, kemudian ditutup dan pengaduk dijalankan pada kecepatan 20 putaran per menit. Daya muat alat ini sekitar 3 kg bunga yang memerlukan 6,4 liter heksan. Setelah 20 menit, cairan yang sudah mengandung wangi melati dikeluarkan, ampas dipisahkan, kemudian cairan dimasukkan ke dalam evaporator.

Tahapan berikutnya yaitu penguapan heksan pada suhu di bawah 55oC, dilanjutkan dengan pengembunan untuk mendapatkan kembali heksan cair sekitar 75%. Sisa cairan heksan 25% diuapkan lebih lanjut dengan menggunakan evaporator vakum berputar sampai diperoleh pasta pekat, berwarna coklat kemerahan, agak lengket karena masih mengandung lilin, dengan bau wangi melati yang kuat. Pasta ini disebut concrete. Meskipun masih merupakan produk antara, concrete sudah dapat diperdagangkan dan mempunyai keuntungan zat wanginya tidak mudah menguap karena masih terikat dengan komponen lilin. Untuk menjadi minyak melati yang dapat digunakan sebagai bahan minyak wangi atau kosmetik, dilakukan proses lanjutannya.

Proses berikutnya yaitu memisahkan komponen minyak melati dari lilin, pigmen, dan protein yang terkandung dalam concrete sehingga diperoleh minyak yang harum seperti bunga aslinya atau dikenal dengan absolut melati. Cara pengambilan minyak melati dari concrete adalah dengan melarutkannya ke dalam alkohol, kemudian dilakukan pemisahan melalui pendinginan dan penyaringan. Proses ini dikerjakan berulang kali hingga diperoleh cairan jernih tanpa lilin. Tahap akhir adalah penguapan alkohol menggunakan evaporator vakum berputar untuk memperoleh absolut. Absolut berwarna kuning kecoklatan, jernih dengan bau melati sangat kuat.

Prospek Pengembangan

Menilik potensi dan peluangnya, pengolahan bunga melati menjadi minyak merupakan peluang pengembangan produk baru hasil industri berbasis bunga, sekaligus sebagai diversifikasi manfaat melati. Pengembangan produk ini akan membuka lapangan kerja tambahan bagi pelaku pascapanen melati yang saat ini hanya sebatas melakukan panen dan mengangkutnya ke pabrik teh. Pada gilirannya, bila ada investor, usaha ini akan menambah pendapatan daerah setempat. Untuk mencapainya, kajian teknologi dan kelayakan finansialnya perlu dilakukan pada skala yang lebih besar dengan melibatkan petani, mitra swasta, dan pemerintah daerah/Dinas di wilayah penghasil melati terutama Jawa Tengah. Namun, karena proses pengolahan melati belum dikenal masyarakat, diperlukan beberapa tahapan kajian yang ditangani oleh tim lintas disiplin dan institusi.

Selain untuk melati, teknologi yang sama dapat diterapkan pada jenis bunga harum lainnya, seperti sedap malam dan mawar, sehingga tidak tergantung pada satu jenis bahan baku (Sulusi Prabawati, Suyanti dan Astu Unadi)
sumber : http://www.scribd.com/doc/887208/Prospek-Pengembangan-Melati

Minyak Zaitun (Olive Oils)


Minyak zaitun atau minyak Olive adalah sebuah minyak buah yang didapat dari zaitun (Olea europaea), pohon tradisional dari basin Mediterania. Minyak dapat digunakan untuk memasak, kosmetik, obat-obatan, dan sabun, dan juga sebagai bahan bakar untuk lampu minyak. Minyak zaitun dianggap sebagai minyak yang sehat karena mengandung lemak tak jenuh yang tinggi (utamanya asam oleik dan polifenol)

MINYAK zaitun merupakan salah satu jenis minyak yang akrab di telingan wanita. Selain dikenal sebagai penambah cita rasa makanan, minyak ini juga memiliki beragam manfaat, baik untuk kesehatan maupun kecantikan. Tak heran jika minyak ini dijuluki the liquid gold.

Ternyata khasiat minyak zaitun tak hanya sebatas itu saja, karena minyak ini dapat digunakan untuk rambut. Salah satunya ialah rambut kering sebagai akibat dari polusi udara, paparan sinar matahari, terlalu banyak berada di dalam ruangan ber-AC atau bahkan terlalu sering menggunakan produk-produk berbahan kimia.

Pemakaian perawatan rambut dan kulit kepala yang mengandung minyak zaitun diyakini sebagai solusi yang tepat dan sehat. Pasalnya, nutrisi yang terkandung di dalamnya dapat memperbaiki kutikula rambut yang rusak sekaligus memberi kelembaban ekstra pada rambut. Sehingga rambut menjadi lebih sehat, lembut, berkilau dan tidak mudah bercabang.

Minyak zaitun yang murni (Extra Virgin Olive Oil atau Un-refined Olive Oil) juga dapat digunakan langsung pada kulit kepala sebelum melakukan perawatan creambath. Bahkan campuran minyak zaitun dengan minyak jarak, perasan lemon serta larutan air dari seduhan daun peppermint diyakini sebagai resep alami untuk mencegah ketombe dan gatal pada kulit kepala.

Khusus untuk perawatan wajah, produk kecantikan yang mengandung minyak zaitun dipercaya dapat membantu mempertahankan kelembaban dan elastisitas kulit sekaligus memperlancar proses regenerasi kulit, sehingga kulit tidak mudah kering dan berkerut. Untuk wajah, minyak zaitun dapat dicampur dengan masker atau diulaskan langsung pada kulit wajah.

Sementara itu, untuk tubuh minyak zaitun dapat digunakan sebagai carrier oil untuk campuran minyak esensial sebagai minyak pijat. Minyak zaitun juga dapat digunakan sebagai campuran body lotion atau sabun mandi untuk menjaga kelembapan dan kelembutan kulit.

Bahkan minyak zaitun juga berkhasiat untuk mempertahankan bentuk serta kekencangan payudara. Sedangkan untuk tangan dan kaki, minyak zaitun dapat juga digunakan untuk mengurangi kulit yang menebal pada telapak kaki, mempertahankan kehalusan kulit, serta menguatkan kuku. Karena itu, tak ada salahnya untuk Anda menggunakan minyak zaitun pada kulit sehabis mandi agar kulit senantiasa lembap dan lembut.

Berikut ini ada beberapa cara / tips memanfaatkan minyak zaitun (olive oil) untuk kecantikan:

1. Jika dioleskan ke mahkota kepala, minyak zaitun akan membantu menyuburkan rambut sehingga membuatnya hitam dan lebat.
Hal ini pulalah yang, konon, dipraktikkan oleh Cleopatra di masa lalu. Caranya bisa dicampurkan dengan penggunaan sampo yang biasa dipakai sehari-hari kemudian bilas hingga bersih.


2. Bukan hanya untuk rambut, minyak zaitun pun memberi manfaat tersendiri jika diaplikasikan di wajah, khususnya untuk wajah kering dan mulai berkeriput.
Hal tersebut tak lain karena buah zaitun yang mengandung minyak sebesar 15 persen sehingga mampu melembabkan kulit dengan baik. Di sisi lain, kelembapan tersebut akan menjaga elastisitas kulit sehingga meminimalkan munculnya keriput dini. Ada yang melakukannya dicampur dengan bahan lain, seperti buah alpukat dan ada pula yang langsung mengoleskan minyak zaitun murni ke wajah.

Oleskan secara merata di permukaan wajah hingga leher setiap malam dan diamkan selama sekitar 10 menit. Setelah itu, bilaslah hingga bersih. Sembari mengoleskan ke wajah, berilah sedikit pijatan karena minyak tersebut juga dapat membantu mengendurkan ketegangan otot di wajah setelah lelah beraktivitas. Apabila dilakukan secara teratur, kulit wajah pun akan terlihat lebih segar.

3. Demikian pula untuk merawat kesehatan kulit di tubuh secara keseluruhan, yang bisa dioleskan ketika mandi.
Kulit tubuh pun akan terjaga kelembabannya dan terlihat lebih bercahaya. Dengan beragam manfaat ini, tak heran jika minyak zaitun juga banyak ditemui sebagai salah satu bahan formula yang digunakan dalam sebuah produk kecantikan

Jasmine Oil


Jasmine is native to India and Western Asia. There are many species of Jasmine, up to 42 species have been recorded in India alone. We like the grandiflorum for its combination of floral, deep notes and smooth character. (If you are interested in a lighter, sweeter Jasmine, try the Sambac variety.) This Jasmine absolute is an orange-brown, viscous liquid with an intensely rich, warm, floral scent and 'tea-like' undertone. It is an oil that brings a lightness and happy feeling to those who use it.

This is an expensive oil and is very potent. It is best to dilute before using; a little will go a long way. We like jojoba oil as a carrier for a true Jasmine essential oil perfume, or used in a blend of other oils. As a minor component it mixes well with most other oils, though we find it should be measured drop by drop, as Jasmine can easily overpower other aromas.

Jasmine has been nicknamed 'Queen of the Night' and 'Moonlight of the Grove'; for centuries, women have treasured it for its seductive, beautiful fragrance. Jasmine oil is uplifting and stimulating for times of hopelessness and nervous exhaustion. It helps reduce anxiety and apathy, and can increase excitability when worn as a perfume.

Jasmine oil may be beneficial for dry, greasy, or oily skin. It may help with eczema when caused by stress, frigidity, labor pains, laryngitis, lethargy, menstrual pain and problems.
Origin of jasmine oil

Jasmine is an evergreen, fragile, climbing shrub, that can grow up to 10 meters (33 feet) high and has dark green leaves and small white star-shaped flowers, which are picked at night, when the aroma is most intense.

An experienced picker can pick 10,000-15,000 blossoms per night.

Originally from China and Northern India, it was brought to Spain by the Moors, with France, Italy, Morocco, Egypt, China, Japan and Turkey currently producing the best essential oil.

The name Jasmine is derived from the Persian word 'yasmin'. The Chinese, Arabians and Indians used it medicinally, as well as for an aphrodisiac and for other ceremonial purposes.

In Turkey, the wood is used for making rope stems and jasmine tea is a Chinese favorite (but Jasminum sambac - Arabian jasmine - is normally used for this) and in Indonesia it is used as a popular garnish.

Extraction

Jasmine oil starts it journey as a 'concrete', which is made by solvent extraction, after which an 'absolute' is obtained from the concrete, by separation with alcohol. The essential oil is then produced off the absolute by steam distillation.

1,000 lbs of flowers yield approximately one pound of liquid concrete, which yields 0.2% aromatic molecules.

Chemical composition

There are well over 100 constituents found in jasmine oil, but the main chemical components are benzyl acetate, linalool, benzyl alcohol, indole, benzyl benzoate, cis-jasmone, geraniol, methyl anthranilate and trace amounts of p. cresol, farnesol, cis-3-hexenyl benzoate, eugenol, nerol, ceosol, benzoic acid, benzaldehyde, y-terpineol, nerolidol, isohytol, phytol etc.

Precautions

Jasmine oil is non-toxic, non-irritant and generally non-sensitizing, although some people do have an allergic reaction to the oil. Due to its emmenagogue properties it should not be used in pregnancy. Using too much of this oil could impede concentration, as it is a deeply relaxing oil.

Therapeutic properties

The therapeutic properties of jasmine oil are anti-depressant, antiseptic, aphrodisiac, anti-spasmodic, cicatrisant, expectorant, galactagogue, parturient, sedative and uterine
It is a valuable remedy in cases of severe depression and soothes the nerves, producing a feeling of confidence, optimism and euphoria, while revitalizing and restoring energy.

Jasmine oil facilitates delivery in childbirth: it hastens the birth by strengthening the contractions and at the same time relieves pain. It is effective in post-natal depression and promotes the flow of breast milk.

Because of its deeply soothing and calming nature, jasmine oil helps with sexual problems such as impotence, premature ejaculation and frigidity.

It has a very beneficial effect on the respiratory system, by soothing irritating coughs and helping with hoarseness and laryngitis. It furthermore helps with muscle pain, sprains, and stiff limbs.

Jasmine oil tones dry, greasy, irritated and sensitive skin, increases elasticity and is often used to assist with stretch marks and to reduce scarring

Minyak Nilam


Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya


Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.

Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa (Pogostemon heyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah.

Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%, berwarna kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan. Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan ke dalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan bahan baku lain).

Karena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam industri parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini, termasuk lebih dari separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan pengusir serangga perusak pakaian.

Aroma minyak nilam dianggap 'mewah' menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.
Di pasaran minyak atsiri dunia, mutu minyak nilam Indonesia di kenal paling baik dan menguasai pangsa pasar 80 – 90%. Minyak nilam (patchouli oil) merupakan salah satu minyak atsiri yang banyak diperlukan untuk bahan industri parfum dan kosmetik, yang dihasilkan dari destilasi daun tanaman nilam (Pogostemon patchouli). Bahkan minyak nilam dapat pula di buat menjadi minyak rambut dan saus tembakau. Parfum yang dicampuri minyak yang komponen utamanya patchouli alcohol (C15H26) ini, aroma harumnya akan bertahan lebih lama.

Produksi minyak nilam banyak terdapat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Daerah lain yang sedang mengembangkan komoditi ini di antaranya adalah Bengkulu, Lampung dan beberapa daerah di Jawa seperti Purwokerto, Madiun, Malang, Garut, Ciamis, Tasikmalaya. Lebih dari 80% minyak nilam Indonesia dihasilkan dari Daerah Istemewa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang sebagian besar produksinya di ekspor ke negara-negara industri.

Prospek ekspor komoditi ini pada masa yang akan datang juga masih cukup besar, seiring dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum/kosmetika, trend mode dan belum berkembangnya barang subsitusi essential oil yang bersifat pengikat (fiksasi) dalam industri parfum/kosmetika. Dapat dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada produk apapun baik alami maupun sintetis yang dapat menggantikan minyak nilam dalam posisinya sebagai fiksasi.

Essential Oil


An essential oil is a concentrated, hydrophobic liquid containing volatile aroma compounds from plants. Essential oils are also known as volatile or ethereal oils, or simply as the "oil of" the plant from which they were extracted, such as oil of clove. An oil is "essential" in the sense that it carries a distinctive scent, or essence, of the plant. Essential oils do not as a group need to have any specific chemical properties in common, beyond conveying characteristic fragrances. They are not to be confused with essential fatty acids.



Essential oils are generally extracted by distillation. Other processes include expression, or solvent extraction. They are used in perfumes, cosmetics, soap and other products, for flavoring food and drink, and for scenting incense and household cleaning products.
Various essential oils have been used medicinally at different periods in history. Medical application proposed by those who sell medicinal oils range from skin treatments to remedies for cancer, and are often based on historical use of these oils for these purposes. Such claims are now subject to regulation in most countries, and have grown more vague to stay within these regulations.
Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine which claims that the specific aromas carried by essential oils have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer or by heating over a candle flame, or burned as incense, for example.
Essential oils are volatile and liquid aroma compounds from natural sources, usually plants. Essential oils are not oils in a strict sense, but often share with oils a poor solubility in water. Essential oils often have an odor and are therefore used in food flavoring and perfumery. Essential oils are usually prepared by fragrance extraction techniques such as distillation (including steam distillation), cold pressing, or extraction (maceration). Essential oils are distinguished from aroma oils (essential oils and aroma compounds in an oily solvent), infusions in a vegetable oil, absolutes, and concretes. Typically, essential oils are highly complex mixtures of often hundreds of individual aroma compounds.
Agar oil, distilled from Agarwood (Aquilaria malaccensis). Highly prized for its fragrance.[1]
sumber : wikipedia

Followers