Minyak Zaitun (Olive Oils)


Minyak zaitun atau minyak Olive adalah sebuah minyak buah yang didapat dari zaitun (Olea europaea), pohon tradisional dari basin Mediterania. Minyak dapat digunakan untuk memasak, kosmetik, obat-obatan, dan sabun, dan juga sebagai bahan bakar untuk lampu minyak. Minyak zaitun dianggap sebagai minyak yang sehat karena mengandung lemak tak jenuh yang tinggi (utamanya asam oleik dan polifenol)

MINYAK zaitun merupakan salah satu jenis minyak yang akrab di telingan wanita. Selain dikenal sebagai penambah cita rasa makanan, minyak ini juga memiliki beragam manfaat, baik untuk kesehatan maupun kecantikan. Tak heran jika minyak ini dijuluki the liquid gold.

Ternyata khasiat minyak zaitun tak hanya sebatas itu saja, karena minyak ini dapat digunakan untuk rambut. Salah satunya ialah rambut kering sebagai akibat dari polusi udara, paparan sinar matahari, terlalu banyak berada di dalam ruangan ber-AC atau bahkan terlalu sering menggunakan produk-produk berbahan kimia.

Pemakaian perawatan rambut dan kulit kepala yang mengandung minyak zaitun diyakini sebagai solusi yang tepat dan sehat. Pasalnya, nutrisi yang terkandung di dalamnya dapat memperbaiki kutikula rambut yang rusak sekaligus memberi kelembaban ekstra pada rambut. Sehingga rambut menjadi lebih sehat, lembut, berkilau dan tidak mudah bercabang.

Minyak zaitun yang murni (Extra Virgin Olive Oil atau Un-refined Olive Oil) juga dapat digunakan langsung pada kulit kepala sebelum melakukan perawatan creambath. Bahkan campuran minyak zaitun dengan minyak jarak, perasan lemon serta larutan air dari seduhan daun peppermint diyakini sebagai resep alami untuk mencegah ketombe dan gatal pada kulit kepala.

Khusus untuk perawatan wajah, produk kecantikan yang mengandung minyak zaitun dipercaya dapat membantu mempertahankan kelembaban dan elastisitas kulit sekaligus memperlancar proses regenerasi kulit, sehingga kulit tidak mudah kering dan berkerut. Untuk wajah, minyak zaitun dapat dicampur dengan masker atau diulaskan langsung pada kulit wajah.

Sementara itu, untuk tubuh minyak zaitun dapat digunakan sebagai carrier oil untuk campuran minyak esensial sebagai minyak pijat. Minyak zaitun juga dapat digunakan sebagai campuran body lotion atau sabun mandi untuk menjaga kelembapan dan kelembutan kulit.

Bahkan minyak zaitun juga berkhasiat untuk mempertahankan bentuk serta kekencangan payudara. Sedangkan untuk tangan dan kaki, minyak zaitun dapat juga digunakan untuk mengurangi kulit yang menebal pada telapak kaki, mempertahankan kehalusan kulit, serta menguatkan kuku. Karena itu, tak ada salahnya untuk Anda menggunakan minyak zaitun pada kulit sehabis mandi agar kulit senantiasa lembap dan lembut.

Berikut ini ada beberapa cara / tips memanfaatkan minyak zaitun (olive oil) untuk kecantikan:

1. Jika dioleskan ke mahkota kepala, minyak zaitun akan membantu menyuburkan rambut sehingga membuatnya hitam dan lebat.
Hal ini pulalah yang, konon, dipraktikkan oleh Cleopatra di masa lalu. Caranya bisa dicampurkan dengan penggunaan sampo yang biasa dipakai sehari-hari kemudian bilas hingga bersih.


2. Bukan hanya untuk rambut, minyak zaitun pun memberi manfaat tersendiri jika diaplikasikan di wajah, khususnya untuk wajah kering dan mulai berkeriput.
Hal tersebut tak lain karena buah zaitun yang mengandung minyak sebesar 15 persen sehingga mampu melembabkan kulit dengan baik. Di sisi lain, kelembapan tersebut akan menjaga elastisitas kulit sehingga meminimalkan munculnya keriput dini. Ada yang melakukannya dicampur dengan bahan lain, seperti buah alpukat dan ada pula yang langsung mengoleskan minyak zaitun murni ke wajah.

Oleskan secara merata di permukaan wajah hingga leher setiap malam dan diamkan selama sekitar 10 menit. Setelah itu, bilaslah hingga bersih. Sembari mengoleskan ke wajah, berilah sedikit pijatan karena minyak tersebut juga dapat membantu mengendurkan ketegangan otot di wajah setelah lelah beraktivitas. Apabila dilakukan secara teratur, kulit wajah pun akan terlihat lebih segar.

3. Demikian pula untuk merawat kesehatan kulit di tubuh secara keseluruhan, yang bisa dioleskan ketika mandi.
Kulit tubuh pun akan terjaga kelembabannya dan terlihat lebih bercahaya. Dengan beragam manfaat ini, tak heran jika minyak zaitun juga banyak ditemui sebagai salah satu bahan formula yang digunakan dalam sebuah produk kecantikan

How to Make Bioetanol From Cassava


Bioethanol is simply ethanol that has been produced using biological materials (biomass) for feedstocks. Since it relies on sunlight and photosynthesis to contribute to the growth of that biomass (plants, grasses, corn, wheat, etc), bioethanol is a renewable fuel. Bioethanol is made when biomass is converted to sugars, which are then fermented into ethanol. The process of hydrolysis seperates most of the water from ethanol, leaving an end product that is generally about 95% ethanol and 5% water. Bioethanol can be blended with conventional gasoline at any ratio, but the most common blend is E10 (10% ethanol, 90% gasoline, sometimes called Gasohol), which can be used in existing gasoline engines without modifications and without affecting vehicle warranty. Higher blends, such as E85, require a Flexible fuel vehicle (FFV)

Developed countries have developed alternative energy that can replace the role of petroleum and natural material resources (especially minerals) that functions as a fuel. Petroleum reserves dwindling due to increasing population needs and the bombast of the world (only China has a population of 1 billion ...) is the driving factor in giatnya scientists seeking new energy sources renewable, cheap and safe for the environment (especially those derived from vegetable ).

Some alternative fuels popular is biodiesel, biogas, biofuels, hydrogen and nuclear energy. Biofuel is one derived from biomass. Biofuel is fuel derived from plants or animals, usually from agriculture, the remaining solids are also of forest products.

Let's see biofuels, especially ethanol. Through the process sakarifikasi (complex sugar solution into simple sugars), fermentation, and distillation, crops such as corn, sugar cane and cassava can be converted into fuel.

Incidentally some time ago found a way of making ethanol from cassava is applied by Mr. H Soerawidjaja Tatang. The following processing capacity of 10 liters per day:

1. 125 kg of peeled fresh cassava, all kinds of dapal utilized. Clean and cut up small size.

2. Dry cassava which has been chopped up to a maximum water content of 16%. Just a dried cassava into cassava. Aim to be more durable so that producers can save as a raw material reserves

25 kg of dried cassava 3.Masukkan into the eel tank stainless steel 120-liter capacity, then add water until it reaches the volume of 100 liters. Heat dried cassava to 100 "C for 0.5 hours. Stir until cooked cassava into pulp and thickens.

4. Chill cassava porridge, and enter into langki sakarifikasi. Sakarifikasi is the process of decomposition of starch into glucose. After the cold, enter the fungus Aspergillus that will break down starch into glucose. To describe the 100 liters of cassava starch porridge. to 10 liters of solution fungus Aspergillus or 10% of the total pulp. Fungi concentrations reached 100-million cells / ml. Sebclum used, Aspergilhis dikuhurkan on cassava porridge was cooked to the adaptive nature of the chemical pulp with dried cassava. Breed fungi break down starch and work

5.Dua hours later, cassava porridge into 2 layers: water and sediment sugar. Stir again starch into sugar that is then put into fermentation tank. However, before making sure blood sugar is fermented starch solution up to 17-18%. That is the maximum sugar content like Saccharomyces unluk bacteria live and work break down sugar into alcohol. If high lebth sugar, add water until it reaches the desired level. Otherwise, add the sugar solution in order to achieve maximum sugar content.

6 Cover tightly fermentation tank to prevent contamination and Saccharomyces work more optimally extract the glucose. Aka anaerobic fermentation lasted not require oxygen. In order for optimal fermentation, keep the temperature at 28-32 "C and pH 4,5-5,5.

7. After 2-3 days, the starch solution into 3 layers. The bottom layer of protein deposition. On top of water, and ethanol. It is fermented beer containing 6-12% ethanol

8.Sedot ethanol solution with a plastic tube through a filter paper measuring 1 micron to filter out sediment protein.

9. Although filtered, ethanol was still bercampurair. To separate them, do distillate or distillation. Heat the mixture of water and ethanol at a temperature of 78 "C or the boiling point of ethanol equivalent. At that temperature evaporates first ethanol than the drip boiling water 100 ° C. Ethanol vapor flowed through the pipes so water-soaked and re-condensed into liquid ethanol.

10 The results of the distillation of 95% ethanol and insoluble in gasoline. In order larul, required ethanol yield is 99% ethanol or dried. Therefore, the need distilled absorbent. 95% ethanol is heated 100 "C. Angene temperature, ethanol and water evaporates. Steam them and then passed into the pipe walls were coated zeolite or starch. Zeolite will absorb the remaining water content up to 99% ethanol obtained ready dieampur denganbensin. Ten liters of ethanol 99%, need 120 to 130 liters of beer are produced from 25 kg of dried cassava

Jasmine Oil


Jasmine is native to India and Western Asia. There are many species of Jasmine, up to 42 species have been recorded in India alone. We like the grandiflorum for its combination of floral, deep notes and smooth character. (If you are interested in a lighter, sweeter Jasmine, try the Sambac variety.) This Jasmine absolute is an orange-brown, viscous liquid with an intensely rich, warm, floral scent and 'tea-like' undertone. It is an oil that brings a lightness and happy feeling to those who use it.

This is an expensive oil and is very potent. It is best to dilute before using; a little will go a long way. We like jojoba oil as a carrier for a true Jasmine essential oil perfume, or used in a blend of other oils. As a minor component it mixes well with most other oils, though we find it should be measured drop by drop, as Jasmine can easily overpower other aromas.

Jasmine has been nicknamed 'Queen of the Night' and 'Moonlight of the Grove'; for centuries, women have treasured it for its seductive, beautiful fragrance. Jasmine oil is uplifting and stimulating for times of hopelessness and nervous exhaustion. It helps reduce anxiety and apathy, and can increase excitability when worn as a perfume.

Jasmine oil may be beneficial for dry, greasy, or oily skin. It may help with eczema when caused by stress, frigidity, labor pains, laryngitis, lethargy, menstrual pain and problems.
Origin of jasmine oil

Jasmine is an evergreen, fragile, climbing shrub, that can grow up to 10 meters (33 feet) high and has dark green leaves and small white star-shaped flowers, which are picked at night, when the aroma is most intense.

An experienced picker can pick 10,000-15,000 blossoms per night.

Originally from China and Northern India, it was brought to Spain by the Moors, with France, Italy, Morocco, Egypt, China, Japan and Turkey currently producing the best essential oil.

The name Jasmine is derived from the Persian word 'yasmin'. The Chinese, Arabians and Indians used it medicinally, as well as for an aphrodisiac and for other ceremonial purposes.

In Turkey, the wood is used for making rope stems and jasmine tea is a Chinese favorite (but Jasminum sambac - Arabian jasmine - is normally used for this) and in Indonesia it is used as a popular garnish.

Extraction

Jasmine oil starts it journey as a 'concrete', which is made by solvent extraction, after which an 'absolute' is obtained from the concrete, by separation with alcohol. The essential oil is then produced off the absolute by steam distillation.

1,000 lbs of flowers yield approximately one pound of liquid concrete, which yields 0.2% aromatic molecules.

Chemical composition

There are well over 100 constituents found in jasmine oil, but the main chemical components are benzyl acetate, linalool, benzyl alcohol, indole, benzyl benzoate, cis-jasmone, geraniol, methyl anthranilate and trace amounts of p. cresol, farnesol, cis-3-hexenyl benzoate, eugenol, nerol, ceosol, benzoic acid, benzaldehyde, y-terpineol, nerolidol, isohytol, phytol etc.

Precautions

Jasmine oil is non-toxic, non-irritant and generally non-sensitizing, although some people do have an allergic reaction to the oil. Due to its emmenagogue properties it should not be used in pregnancy. Using too much of this oil could impede concentration, as it is a deeply relaxing oil.

Therapeutic properties

The therapeutic properties of jasmine oil are anti-depressant, antiseptic, aphrodisiac, anti-spasmodic, cicatrisant, expectorant, galactagogue, parturient, sedative and uterine
It is a valuable remedy in cases of severe depression and soothes the nerves, producing a feeling of confidence, optimism and euphoria, while revitalizing and restoring energy.

Jasmine oil facilitates delivery in childbirth: it hastens the birth by strengthening the contractions and at the same time relieves pain. It is effective in post-natal depression and promotes the flow of breast milk.

Because of its deeply soothing and calming nature, jasmine oil helps with sexual problems such as impotence, premature ejaculation and frigidity.

It has a very beneficial effect on the respiratory system, by soothing irritating coughs and helping with hoarseness and laryngitis. It furthermore helps with muscle pain, sprains, and stiff limbs.

Jasmine oil tones dry, greasy, irritated and sensitive skin, increases elasticity and is often used to assist with stretch marks and to reduce scarring

How to Make Charcoal


Charcoal is the black residue consisting of impure carbon obtained by removing water and other volatile constituents from animal and vegetation substances. Charcoal is usually produced by slow pyrolysis, the heating of wood, sugar, bone char, or other substances in the absence of oxygen (see pyrolysis, char and biochar). The resulting soft, brittle, lightweight, black, porous material resembles coal and is 85% to 98% carbon with the remainder consisting of volatile chemicals and ash

Historically, production of wood charcoal in districts where there is an abundance of wood dates back to a very ancient period, and generally consists of piling billets of wood on their ends so as to form a conical pile, openings being left at the bottom to admit air, with a central shaft to serve as a flue. The whole pile is covered with turf or moistened clay. The firing is begun at the bottom of the flue, and gradually spreads outwards and upwards. The success of the operation depends upon the rate of the combustion. Under average conditions, 100 parts of wood yield about 60 parts by volume, or 25 parts by weight, of charcoal; small scale production on the spot often yields only about 50%, large scale was efficient to about 90% even by the seventeenth century. The operation is so delicate that it was generally left to colliers (professional charcoal burners).
The massive production of charcoal (at its height employing hundreds of thousands, mainly in Alpine and neighbouring forests) was a major cause of deforestation, especially in Central Europe. In England, many woods were managed as coppices, which were cut and regrew cyclically, so that a steady supply of charcoal would be available (in principle) forever; complaints (as early as the Stuart period) about shortages may relate to the results of temporary over-exploitation or the impossibility of increasing production to match growing demand. The increasing scarcity of easily harvested wood was a major factor for the switch to the fossil fuel equivalents, mainly coal and brown coal for industrial use.
The modern process of carbonizing wood, either in small pieces or as sawdust in cast iron retorts, is extensively practiced where wood is scarce, and also for the recovery of valuable byproducts (wood spirit, pyroligneous acid, wood tar), which the process permits. The question of the temperature of the carbonization is important; according to J. Percy, wood becomes brown at 220 °C, a deep brown-black after some time at 280 °C, and an easily powdered mass at 310 °C.[citation needed] Charcoal made at 300° is brown, soft and friable, and readily inflames at 380 °C; made at higher temperatures it is hard and brittle, and does not fire until heated to about 700 °C.
In Finland and Scandinavia, the charcoal was considered the by-product of wood tar production. The best tar came from pine, thus pinewoods were cut down for tar pyrolysis. The residual charcoal was widely used as substitute for metallurgical coke in blast furnaces for smelting. Tar production led to rapid deforestation: it has been estimated all Finnish forests are younger than 300 years by their age. The end of tar production in the end of the 19th century meant also rapid re-forestation.
The charcoal briquette was first invented and patented by Ellsworth B. A. Zwoyer of Pennsylvania in 1897[1] and was produced by the Zwoyer Fuel Company. The process was further popularized by Henry Ford, who used wood and sawdust byproducts from automobile fabrication as a feedstock. Ford Charcoal went on to become the Kingsford Company.
The direct method uses heat from the incomplete combustion of the organic matter, which is to become charcoal. The rate of combustion is controlled by regulating the amount of oxygen allowed into the burn and is stopped by excluding oxygen before the charcoal itself begins to burn. This is the ages old method used by colliers to make charcoal in a pit, pile (clamp) or, more recently, in metal or masonry chambers (kilns). See the links below for more information.
The indirect method uses an external heat source to "cook" organic matter contained in a closed but vented airless chamber (retort). This is usually carried out in a metal or masonry chamber (furnace). The indirect method results in a higher yield of high quality charcoal with less smoke and pollutants and requires less skill and attention than the direct method.
For my first tests, I decided to try the indirect method. There had been some posts on a pyrotechnics newsgroup describing a procedure for making small quantities of willow or grapevine charcoal in a cookie tin or five gallon bucket. For the furnace, I used a 55 gal oil drum with the top cut out and a 12" wide X 10" high hole cut in the lower side for maintaining the fire. I used two iron rods stuck through the sides about 8" from the bottom to support the retort. I also kept the top which had been cut out. After the fire was well established , the top was placed on the drum and supported by rods to help hold the heat in yet allow a good draft. The retort was a 16 gal. steel drum with lid and I cut about six 3/8" holes in the bottom with an acetylene torch. I burned it out well in the furnace to eliminate petroleum residues. These drums are used for lubricants such as transmission fluid and gear grease and are readily available.

After the retort was loaded with air dried hickory the top was sealed and the drum was placed in the furnace or burn barrel. Wood scraps and bark were placed under the retort and around the sides and lit with newspaper assisted by a little burnt motor oil to get things off to a fast start. There was right much smoke for the first hour, but as things heated up and the moisture was driven off, it burned so clean that all you could see were heat waves. With the vent holes located in the bottom of the retort, the vapors and gasses were discharged into the hottest part of the fire and burned.

I stopped the first test too soon and only had about 1/3 charcoal. The rest was charred chunks of wood. The second test burned for about 3 hours, until the gasses had just stopped burning around the holes in the bottom. Results: 56# of wood yielded 17 1/2# charcoal or 32% by wet weight. Assuming an EMC (equilibrium moisture content) of 12%, The yield exceeds 35% on a dry matter basis. This is very good as most direct burns result in 20 to 25% at the best. I got over 2 1/2 five gallon buckets of good lump and only one large (4"X6") chunk showed signs of incomplete conversion with some brown in the center.

I was going to run a series of trials to compare the indirect method with direct (bottom lit) and direct (top lit). After several burns using the retort, I decided that there were such obvious advantages to the indirect method that I abandoned studies of direct burns. The retort method is easy, reliable, and does not require the skill and attention of direct burns. The equipment and materials which I used are readily available worldwide. As the gasses and volatiles are discharged into a hot bed of coals, I believe that most of the pollutants are burned, adding to the furnace heat. I also suspect that yield and quality are better. From what I have read, 35% by dry weight is excellent; the resulting charcoal burns hot and clean; you can almost light it with a match.

The indirect method also appears to be more compatible with heat recovery and waste wood utilization systems. I live on a farm in Virginia and my wife operates a small sawmill. Disposing of slabs and wood waste is a serious problem. I can burn a lot of the hardwood slabs in my indoor masonry heater/cooker. We have not found an economical use for pine slabs (we can't give them away) and have started burning them in a field. This is obviously a wasteful and polluting practice. My ultimate goal is to build a small masonry furnace that would hold several 55 gallon drum retorts and recover heat for domestic space heating during the winter. Charcoal could be a marketable by-product. I would burn pine slabs and waste wood in the furnace and make charcoal from hardwoods in 55 gallon drums. This approach appears to be very energy efficient as the gasses released by destructive distillation are utilized.

Progammable Logic Controllers (PLC)


Dalam bidang industri penggunaan mesin otomatis dan pemrosesan secara otomatis merupakan hal yang umum. Sistem prengontrolan dengan elektromekanik yang menggunakan relay-relay mempunyai banyak kelemahan, diantaranya kontak-kontak yang dipakai mudah aus karena panas / terbakar atau karena hubung singkat, membutuhkan biaya yang besar saat instalasi, pemeliharaan dan modifikasi dari sistem yang telah dibuat jika dikemudian hari dipertlukan modifikasi.
Dengan menggunakan PLC hal-hal ini dapat diatasii, karena sistem PLC mengintegrasikan berbagai macam komponen yang berdiri sendiri menjadi suatu sistem kendali terpadu dan dengan mudah merenovasi tanpa harus mengganti semua instrumen yang ada

KONSEP PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLERS (PLC)
Konsep dari PLC sesuai dengan namanya adsalah sebagai berikut :
Programmable : menunjukkan kemampuannya yang dapat dengan mudah diubah-ubah sesuai program yang dibuat dan kemampuannya dalam hal memori program yang telah dibuat.
Logic : menunjukkan kemampuannya dalam memproses input secara aritmetik (ALU), yaitu melakukjan operasi membandingkan, menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi dan negasi.
Controller : menunjukkan kemampuannya dalam mengontrol dan mengatur proses sehingga menghasilkan output yang diinginkan.

FUNGSI PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLERS (PLC)
Fungsi dan kegunaan dari PLC dapat dikatakan hampir tidak terbatas. Tapi dalam prakteknya dapat dibagi secara umum dan khusus.
Secara umum fungsi dari PLC adalah sebagai berikut :
1. Kontrol Sekensial
PLC memroses input sinyal biner menjadi output yang digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan (sekuensial), disini PLC menjaga agar semua step / langkah dalam proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang tepat.
2. Monitoring Plant
PLC secara terus menerus memonitor suatu sistem (misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses yang dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan pesan tersebut ke operator.

BAHASA PEMOGRAMAN
Terdapat banyak pilihan bahasa untuk membuat program dalam PLC. Masing-masing bahasa mempunyai keuntungan dan kerugian tergantung dari sudut pandang kita sebagai user / pemogram. Pada umumnya terdapat 2 bahasa pemograman sederhana dari PLC , yaitu pemograman diagram ladder dan bahasa instruction list. (mnemonic code).Diagram Ladder adalah bahasa yang dimiliki oleh setiap PLC.

LADDER DIAGRAM
Diagram Ladder menggambarkan program dalam bentuk grafik. Diagram ini dikembangkan dari kontak-kontak relay yang terstruktur yang menggambarkan aliran arus listrik. Dalam diagram ladder terdapat dua buah garis vertical dimana garis vertical sebelah kiri dihubungkan dengan sumber tegangan positip catu daya dan garis sebelah kanan dihubungkan dengan sumber tegangan negatip catu daya.
Program ladder ditulis menggunakan bentuk pictorial atau simbol yang secara umum mirip dengan rangkaian kontrol relay. Program ditampilkan pada layar dengan elemen-elemen seperti normally open contact, normally closed contact, timer, counter, sequencer dll ditampilkan seperti dalam bentuk pictorial.
Dibawah kondisi yang benar, listrik dapat mengalir dari rel sebelah kiri ke rel sebelah kanan, jalur rel seperti ini disebut sebagai ladder line (garis tangga). Peraturan secara umum di dalam menggambarkan program ladder diagram adalah :
 Daya mengalir dari rel kiri ke rel kanan
 Output koil tidak boleh dihubungkan secara langsung di rel sebelah kiri.
 Tidak ada kontak yang diletakkan disebelah kanan output coil
 Hanya diperbolehkan satu output koil pada ladder line.
Diantar dua garis ini dipasang kontak-kontak yang menggambarkan kontrol dari switch, sensor atau output. Satu baris dari diagram disebut dengan satu rung. Input menggunakan symbol [ ] (kontak normally open) dan [/] (kontak normally close). Output mempunyai symbol ( ) yang terletak paling kanan.

2. Prinsip-prinsip Ladder Diagram PLC
Untuk memperlihatkan hubungan antara satu rangkaian fisik dengan ladder diagram yang mempresentasikannya, lihatlah rangkaian motor listrik pada gambar dibawah ini.
Motor dihubungkan ke sumber daya melalui 3 saklar yang dirangkai secara seri ditambah saklar over load sebagai pengaman. Motor akan menyala bila seluruh saklar dalam kondisi menutup.
Kesimpulan :
 Ladder diagram tersusun dari dua garis vertical yang mewakili rel daya
 Diantara garis vertikal tersebut disusun garis horizontal yang disebut rung (anak tangga) yang berfungsi untukmenempatkan komponen kontrol sistem.

3. Praktek memori Circuit (Latch)
Rangkaian yang bersifat mengingat kondisi sebelumnya seringkali dibutuhkan dalam kontrol logic. Pada rangkaian ini hasil keluaran dikunci (latching) dengan menggunakan kontak hasil keluaran itu sendiri, sehingga walaupun input sudah berubah, kondisi output tetap.


Minyak Nilam


Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya


Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.

Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa (Pogostemon heyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah.

Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%, berwarna kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan. Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan ke dalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan bahan baku lain).

Karena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam industri parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini, termasuk lebih dari separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan pengusir serangga perusak pakaian.

Aroma minyak nilam dianggap 'mewah' menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.
Di pasaran minyak atsiri dunia, mutu minyak nilam Indonesia di kenal paling baik dan menguasai pangsa pasar 80 – 90%. Minyak nilam (patchouli oil) merupakan salah satu minyak atsiri yang banyak diperlukan untuk bahan industri parfum dan kosmetik, yang dihasilkan dari destilasi daun tanaman nilam (Pogostemon patchouli). Bahkan minyak nilam dapat pula di buat menjadi minyak rambut dan saus tembakau. Parfum yang dicampuri minyak yang komponen utamanya patchouli alcohol (C15H26) ini, aroma harumnya akan bertahan lebih lama.

Produksi minyak nilam banyak terdapat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Daerah lain yang sedang mengembangkan komoditi ini di antaranya adalah Bengkulu, Lampung dan beberapa daerah di Jawa seperti Purwokerto, Madiun, Malang, Garut, Ciamis, Tasikmalaya. Lebih dari 80% minyak nilam Indonesia dihasilkan dari Daerah Istemewa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang sebagian besar produksinya di ekspor ke negara-negara industri.

Prospek ekspor komoditi ini pada masa yang akan datang juga masih cukup besar, seiring dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum/kosmetika, trend mode dan belum berkembangnya barang subsitusi essential oil yang bersifat pengikat (fiksasi) dalam industri parfum/kosmetika. Dapat dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada produk apapun baik alami maupun sintetis yang dapat menggantikan minyak nilam dalam posisinya sebagai fiksasi.

How to Make Cassava Flour


CASSAVA (Manihot esculenta Crantz.) is one of the most important cash crops in Thailand and Philippines. It is planted in about 1.2 million hectares, producing 17.7 million mt each year in Thailand. About 50-60% of this production serves as a raw material for cassava chips and pellets. These are exported to be mixed into livestock feeds, mainly to the European Common Market and some countries in Asia.
However, the price of cassava products is unstable, depending on the market demand each year. One way of solving this problem is to add value to them cassava through diversified usage, especially industrial utilization and human consumption. Processing cassava flour for human food is one solution to the problem of unstable prices for cassava products.

Adaptability of the technology

Thailand imports wheat flour for baked goods and other food products to a value of about US$120 million each year. The use of a locally produced cassava flour to replace wheat flour as a source of carbohydrate would reduce the cost of production and save on foreign exchange. The production of cassava flour is a simple technology that farmers can do for themselves. In this way, farmers can increase their incomes.

How to make the flour

To produce cassava flour, first wash the fresh roots then peel them. Wash the peeled roots. The roots are then chopped into small pieces about 5 x 0.5 x 0.2 cm, and sun-dried for two or three days (or dried in a hot air oven at 55oC). After drying, the moisture content of the cassava chips should be less than 8%. The chips are then milled, and the flour sieved through an 80 mesh sieve. Finally, the flour is packaged in plastic bags. Packaged in this way, the flour can be stored for at least eight months. The yield recovery of flour is about 20-40%, depending on the cultivar, the time of harvest, and the equipment used.

Avoiding Toxicity Problems

Good-quality cassava flour should be white and have a good smell. It should not be contaminated by insects or undesirable microorganisms. If drying takes place outdoors, this should be done on sunny days, otherwise the chips may smell bad and turn brown. It is best to use cassava cultivars which contain a low level of cyanogenic compounds, since these are potentially toxic. However, the cyanogenic content of fresh roots is not a serious problem in cassava flour production, since it is almost entirely eliminated during flour processing. Furthermore, Thailand's traditional cassava cultivars do not contain a high level of hydrocyanic acid. Our experiments on dried chips of cassava from nine cultivars found that the hydrocyanic content fell from 13.5-114.7 ppm in the fresh roots to 0.40-2.37 ppm in the flour. The level varied according to the cultivar and the time of harvest.

Cassava flour as substitute for wheat flour

Cassava flour does not contain any gluten. If it is used to replace wheat flour 100%, the quality of the product will be different. A suitable ratio for replacing wheat flour that consumers find acceptable depends on the kind of food. For example, cassava flour can replace 75% of wheat flour in sponge cakes and chiffon cakes, 50% in butter cakes and cookies, 25% in doughnuts and spaghetti, and 20% in bread. Cassava flour can be used to replace 25-50% of the rice starch in noodles, and will make the noodles softer and more elastic.

Source:www.agnet.org

Essential Oil


An essential oil is a concentrated, hydrophobic liquid containing volatile aroma compounds from plants. Essential oils are also known as volatile or ethereal oils, or simply as the "oil of" the plant from which they were extracted, such as oil of clove. An oil is "essential" in the sense that it carries a distinctive scent, or essence, of the plant. Essential oils do not as a group need to have any specific chemical properties in common, beyond conveying characteristic fragrances. They are not to be confused with essential fatty acids.



Essential oils are generally extracted by distillation. Other processes include expression, or solvent extraction. They are used in perfumes, cosmetics, soap and other products, for flavoring food and drink, and for scenting incense and household cleaning products.
Various essential oils have been used medicinally at different periods in history. Medical application proposed by those who sell medicinal oils range from skin treatments to remedies for cancer, and are often based on historical use of these oils for these purposes. Such claims are now subject to regulation in most countries, and have grown more vague to stay within these regulations.
Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine which claims that the specific aromas carried by essential oils have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer or by heating over a candle flame, or burned as incense, for example.
Essential oils are volatile and liquid aroma compounds from natural sources, usually plants. Essential oils are not oils in a strict sense, but often share with oils a poor solubility in water. Essential oils often have an odor and are therefore used in food flavoring and perfumery. Essential oils are usually prepared by fragrance extraction techniques such as distillation (including steam distillation), cold pressing, or extraction (maceration). Essential oils are distinguished from aroma oils (essential oils and aroma compounds in an oily solvent), infusions in a vegetable oil, absolutes, and concretes. Typically, essential oils are highly complex mixtures of often hundreds of individual aroma compounds.
Agar oil, distilled from Agarwood (Aquilaria malaccensis). Highly prized for its fragrance.[1]
sumber : wikipedia

Metode Produksi (Pengambilan) Minyak Atsiri


A. DEFINISI MINYAK ATSIRI

Minyak Atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan persenyawa padat yang berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, kelarutan dalam pelarut organik dan keluratan dalam air yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun dari bunga.
B. METODE PRODUKSI (PENGAMBILAN) MINYAK ATSIRI
Berdasarkan sifat tersebut diatas, minyak atsiri dapat dibuat dengan beberapa cara, yaitu penyulingan, ekstraksi dengan pelarut menguap (solvent extraction), ekstraksi dengan lemak dingin (enfleurasi), ekstraksi dengan lemak panas (maserasi) dan pengepresan (pressing). Secara umum metode pengambilan minyak atsiri dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu cara mekanik dan cara fisika-kimia.



I. Cara Mekanik
Metode yang sering disebut expression ini merupakan cara cold pressing tidak ada panas yang dibutuhkan pada cara ini. Prosesnya adalah penekanan/pemerasan (squeezing). Bahan dasar yang bisa diambil minyaknya dengan pengepresan secara mekanik biasanya berupa biji-bijian atau kacang-kacangan maupun buah-buahan (citrus oil). Beberapa buah yang mengandung citrus oil diantaranya bergamot, grapefruit, lemon, lime, mandarin, orange, dan tangerine. Ada tiga cara yang berbeda untuk memungut citrus oil :
1. Sponge, dulu dilakukan secara manual (dengan tangan). Daging buah dipisahkan, kulit buah dan biji direndam dalam air panas. Setelah lebih elastis kemudian sponge/busa ditempelkan pada kulit buah lalu diperas/ditekan. Minyak atsiri yang keluar akan terserap oleh sponge. Setelah jenuh, dikumpulkan dengan cara memeras sponge.
2. Equelle a piquer, cara ini lebih hemat tenaga daripada sponge. Metode ini tidak lagi dilakukan dengan cara manual tapi dengan alat yang yang diputar dan dilengkapi paku-paku pada pinggirnya untuk menusuk oil cells pada kulit buah. Minyak atsiri dan pigmen dapat dikeluarkan dari kulit buah, kemudian minyak atsirinya dapat dipisahkan.
3. Machine abrasion, hampir sama dengan cara b. Mesin dapat melepaskan kulit buah dan memasukkannya ke dalam centrifuge dengan menambahkan air. Pemisahan secara sentrifugal ini berjalan sangat cepat, tetapi karena minyak atsiri bercampur dengan zat-zat lain, kemungkinan dapat terjadi perubahan karena pengaruh enzim.

II. Cara Kimia-fisika

1. Distilasi (Penyulingan), ada beberapa jenis distilasi :
Prinsipnya penyulingan destilasi merupakan suatu proses pemisahan komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap atau berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen senyawa tersebut. Pada dasarnya terdapat dua jenis penyulingan yaitu :
a. Hidrodestilasi adalah penyulingan suatu campuran yang berwujud cairan yang tidak saling bercampur, hingga membentuk dua fasa atau dua lapisan. Proses ini dilakukan dengan bantuan air maupun uap air. Hidrodestilasi memiliki 3 jenis metode berdasarkan cara penanganan bahan yang diproses yaitu : destilasi air, destilasi uap dan air serta destilasi uap langsung.
b. Fraksinasi adalah penyulingan suatu cairan yang tercampur sempurna hingga hanya membentuk satu lapisan. Proses ini dilakukan tanpa menggunakan uap air. Fraksinasi memiliki 3 jenis metode yaitu kohobasi, rektifikasi dan destilasi fraksinasi.

2. Ekstraksi Pelarut, yang dapat berupa :
a. Maserasi
b. Enfleurage
c. Pelarut mudah menguap
d. Ekstraksi Hiperkritikal CO2
Keterangan :
a. Penyulingan/Destilasi Air (Perebusan)
Dengan tipe penyulingan air ini, bahan yang akan disuling berhubungan langsung dengan air mendidih. Bahan yang akan disuling kemungkinan mengambang atau mengapung di atas air atau terendam seluruhnya, tergantung pada berat jenis dan kuantitas bahan yang akan diproses. Air dapat dididihkan dengan api secara langsung. Metode ini disebut juga metode perebusan. Ketika bahan direbus, minyak atsiri akan menguap bersama uap air, kemudian dilewatkan melalui kondensor untuk dikondensasi. Alat yang di gunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus. Contoh bahan yang diproses dengan netode ini : bunga mawar, bunga-bunga jeruk.
Destilasi air dapat dijalankan pada tekanan di bawah 1 atmosfir sehingga air bisa mendidih pada suhu yang lebih rendah dari 100oC. Biasanya dilakukan bila bahan atau minyak atsiri rentan terhadap suhu. Contoh : neroli.
b. Penyulingan/Destilasi Uap dan Air (Pengukusan)
Bahan tanaman yang akan diproses ditempatkan dalam wadah yang kontruksinya hampir sama dengan dandang pegukus, sehingga metode ini disebut juga pengukusan. Air dididihkan pada bagian bawah alat . Minyak atsiri akan ikur bersama aliran uap yang kemudian dialirkan ke kondensor. Alat yang digunakan dalam metode ini disebut alat suling pengukus. Temperatur steam harus dikontrol agar hanya cukup untuk memaksa bahan melepas minyak atsirinya dan tidak membakar bahan. Uap yang dipakai bertekanan > 1 atm dan bersuhu > 100oC, sehingga waktu distilasi bisa lebih cepat mengurangi kemungkinan rusaknya minyak atsiri. Cara ini menghasilkan minyak atsiri dengan mutu yang tinggi.
c. Penyulingan/Destilasi Uap Langsung
Bahan dialiri dengan uap yang berasal dari suatu pembangkit uap. Uap yang dihasilkan lazimnya memiliki tekanan yang lebih besar daripada tekanan atmosfer. Uap yang dihasilkan kemudian dialirkan kedalam alat penyulingan sehingga minyak atsiri akan enguap terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk dikondensasi. Alat yang digunakan dalam metode ini disebut alat suling uap langsung.
Pada dasarnya ridak ada perbedaan mencolok pada ketiga alat penyulingan tersebut. Namun pemilihan tergantung pada metode yang digunakan, karena reaksi tertentu dapat terjadi selama penyulingan. Faktor-faktor yang mempengaruhi hidrodestilasi adalah :
1. Difusi atau perembesan minyak atsiri oleh air panas melalui selaput tanaman yang disebut hidrodifusi.
2. Hidrolisis terhadap komponen tertentu dari minyak atsiri.
3. Peruraian terjadi oleh panas.
a. Kohobasi
Sistem kohobasi adalah proses penyulingan yang diulang kembali, artinya air keluaran sisa ini dimasukkan ke ketel lagi untuk diproses ulang menjadi kukus, kemudian kukus dilewatkan pipa ke tabung destilasi. Dalam tabung destilasi kontak dengan bahan baku menghasilkan kukus air dan minyak atsiri, kemudian dipisahkan oleh separator menghasilkan minyak atsiri dan air limbah (sisa).
Bila rose oil dipungut dengan cara water distillation, maka phenyl ethyl alcohol yang dikandungnya akan larut dalam air. Senyawa ini tidak ikut bersama minyak atsiri. Bau minyak atsiri menjadi berbeda disebut incomplete oil . Untuk mendapatkan minyak atsiri yang lengkap (complete oil), phenyl ethyl alcohol dipisahkan dari air dengan cara distilasi kemudian ditambahkan ke dalam incomplete oil dengan perbandingan yang tepat. Rose oil yang lengkap ini disebut Rose Otto.
f. Rektifikasi
Bila essential oil hasil distilasi mengandung impurities (pengotor), dapat dimurnikan dengan re-distilasi memakai steam atau vacuum. Pemurnian dengan cara ini disebut rectification. Ct. eucalyptus oil, dijual sbg double distilled.
g. Destilasi Fraksinasi
Proses distilasi normal, tetapi minyak atsiri dikumpulkan secara batch (menurut fraksinya). Contohnya Ylang-ylang.

Pada proses pengambilan minyak atsiri dengan ekstraksi, bahan-bahan minyak atsiri yang akan diambil minyaknya di tambahkan dengan bahan atau zat pelarut (solvent) yang dapat mengikat minyak yang terdapat dalam bahan atsiri. Zat solven yang bercampur dengan minyak atsiri tersebut selanjutnya akan dipisahkan untuk diambil minyak atsirinya.
Ekstraksi pelarut untuk memungut minyak atsiri, tidak hanya memakai chemical solvent seperti hexan, tetapi juga dengan solven padat misalnya fat/ solid oil. Selain itu bisa juga dengan CO2.
Ekstraksi pelarut terutama cocok untuk bahan-bahan dengan kandungan minyak atsiri yang sangat rendah, juga untuk bahan yang bersifat thermolabile. Dengan tipe proses seperti ini senyawa non volatil misalnya waxe dan pigmen ikut terekstraksi.
a. Maserasi (Ekstraksi dengan lemak panas)
Bahan terutama bunga direndam dalam minyak panas untuk memecah sel-sel yang mengandung minyak atsiri kemudian minyak panas akan menyerap minyak atsiri. Minyak yang mengandung minyak atsiri dipisahkan dari bahan dengan penyaringan atau dekanter.
b. Enfleurasi (Ekstraksi dengan lemak dingin)
Kaca dalam frame (disebut chassis) dilapisi dengan lemak binatang/ tumbuhan yang tidak berbau dan murni. Kemudian bunga segar yang baru dipetik ditempelkan pada lemak lalu ditutup. Minyak atsiri akan terserap oleh lemak, bunga diganti dengan yang segar lagi sampai lemak menjadi jenuh dengan minyak atsiri. Setelah jenuh bunga diambil (defleurage). Campuran lemak dan minyak atsiri ini disebut Pomade. Pamade dicuci dengan alkohol hingga minyak atsiri larut dalam alkohol. Dengan cara distilasi akan diperoleh minyak atsiri. Cara ini sangat mahal dan memerlukan tenaga yang cukup banyak. Bahan yang diproses dengan cara ini contohnya tuberose dan jasmine.

c. Solvent extraction (Pelarut mudah menguap)
Minyak atsiri dapat diekstraksi memakai hexan, metanol, etanol, petrloleum eter, atau benzen. Benzen sekarang tidak dipakai lagi karena bersifat carcinogenic (bisa menyebabkan kanker). Minyak atsiri yang diambil dengan cara ini mempunyai aroma hampir sama denga aslinya. Minyak atsiri banyak yang dipungut dengan cara ini, akan tetapi banyak yang tidak mau memakainya untuk aroma terapi?? Karena ada sisa solvent pada produk akhir minyak atsiri. Solven yang tertinggal 6 – 20%. Dengan memakai hexan, solven yang tersisa hanya 10 ppm. Hasil akhir cara ini disebut concrete. Concrete dapat dilarutkan dalam alkohol untuk memisahkan solvennya. Bila alkohol diuapkan akan dihasilkan absolute. Absolute atau concrete dapat dipakai untuk perfume tapi tidak untuk skin care. Contoh tanaman yang diproses dengan cara ini adalah jasmine, hyacinth, narcissus, tuberose.

d. Ekstraksi Hiperkritikal CO2
Cara ini relatif baru dan mahal, tetapi menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang baik. CO2 menjadi hypercritical pada 33oC dan tekanan 200 atm, pada kondisi ini tidak benar-benar gas atau cair. CO2 pada kondisi ini merupakan solven terbaik karena suhunya rendah dan waktunya sangat singkat/ instan. CO2 bersifat inert dan dengan menurunkan tekanan akan segera dapat memisahkan minyak atsiri dari solvennya. Perlu alat yang mahal, biaya investasi mahal.

Followers